Sunday, November 6, 2016

Cinta itu Harus 'Membunuh'

Diriwayatkan, suatu ketika Nabi Muhammad saaw sedang duduk di Masjid bersama sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang serta merta berteriak, “Ya Muhammad, aku sangat mencintai engkau.”

Semua terperangah dengan pernyataan yang begitu tegas, polos namun terdengar sangat serius. Namun Nabi saaw merespon santai, “serius?”.

Pemuda ini kembali mengungkapkan perasaan cinta yang kelihatannya tak mampu ia bendung terhadap sosok Nabinya itu. “Muhammad, tak ada satupun yang lebih kucintai di dunia ini selain engkau!”, ia kembali mengulanginya.

Nabi saaw menyimak semua perkataannya lalu bertanya, “Apakah engkau masih punya ibu?”. Ia menjawab, “Iya.” Lalu Rasulullah saaw memberi perintah kepada pemuda ini, “Sekarang pulanglah, dan bunuh ibumu!”.

Tidak hanya pemuda ini, seisi masjid terkejut mendengar perintah terkejam yang pernah mereka dengar keluar dari mulut seorang Nabi.

“Apakah engkau punya ibu yang paling kau sayangi?!”, kembali Rasul saaw bertanya dengan nada sedikit keras. “Benar, ya Rasulullah”, jawab pemuda ini lagi. “Maka sekarang pulanglah dan bunuh dia”, Rasul saaw kembali mengulangi perintahnya.

Tanpa berfikir panjang, si pemuda ini bergegas berangkat sambil berkata, “Baik ya Rasulullah, akan kubunuh ibuku.” Seisi masjid berhenti bernafas. Tak pernah disangka seorang Muhammad yang begitu sering memerintahkan pengikutnya untuk mencintai seorang ibu, kini malah memberi perintah untuk membunuhnya.

Dalam keheningan itu tiba-tiba Nabi saaw berkata kepada mereka yang ada dalam masjid, “Sudah kalian saksikan pemuda tadi? Bisa kalian rasakan bagaimana ia begitu mencintaiku?”. Seisi masjid diam.

“Ia bahkan bersedia membunuh ibunya karena cintanya kepadaku,” Rasul menjelaskan. “Kalau kalian benar-benar mencintai seseorang melebihi siapa pun, maka kalian pasti mentaati apapun perintahnya. Itu yang disebut cinta,” Nabi saaw menutup pesannya.

*****

Saudara-saudara sekalian, dari kisah di atas mungkin kita dapat menarik kesimpulan tentang kisah yang lebih awal terjadi dalam sejarah. Yaitu kisah Ibrahim as yang bersedia secara tulus ikhlas membunuh anaknya, hanya untuk sekedar menjalankan perintah dari Tuhan yang paling dicintainya.

Para ulama telah menjelaskan, puncak tertinggi dari maqom agama adalah “cinta.” Dalam terminologi lainnya disebut “ridha.” Salah satu bukti cinta adalah, kita bersedia melakukan apapun untuk yang kita cintai, apapun juga. Kita sering mendengar bagaimana seseorang bersedia melakukan apapun yang bahkan dapat mencelakan dirinya, hanya demi anaknya, keluarganya, sahabatnya, atau seseorang yang dicintainya.

Demikian juga dalam agama, puncak cinta adalah keterkaitan hati kepada Allah dan Rasulnya, dengan cara bersedia melakukan apapun yang telah menjadi titah mereka.

Ibrahim as diangkat Tuhan sebagai salah satu nabi teragung (ulul azmi), dengan gelar “khalilullah” (kekasih Allah), juga sebagai “abul anbiya” (bapak para nabi) dan juga “imam umat manusia” (QS. Al-Baqarah: 124), karena ia telah lulus ujian cinta kepada Allah. Ia mau membunuh anaknya untuk Allah. Karena pada prinsipnya memang tak ada yang lebih kita cintai di dunia ini selain anak kita sendiri. Tetapi Ibrahim sanggup mengorbankan cinta yang besar kepada anaknya hanya untuk sebuah cinta dari Tuhannya.

Tetapi proses pembunuhan ini tidak terjadi, karena Tuhan punya rencana tersendiri. Sebagaimana juga dalam kasus Rasulullah saaw diawal tadi, pembunuhan tersebut tidak terjadi. Karena ketika pemuda tersebut meninggalkan masjid untuk melaksanakan perintah Nabi saaw untuk membunuh ibunya, Nabi saaw menyuruh salah satu sahabatnya untuk mengejar pemuda tadi untuk kembali ke masjid dan menyampaikan pembatalan perintahnya.

Pada akhirnya Rasul saaw mengklarifikasi kepada semua jamaah, “Aku tidak diutus ke muka bumi untuk memerintah kalian melakukan perbuatan keji.” Apa yang dilakukannya tadi hanya untuk menguji orang-orang yang mengaku mencintainya. Karena ayat mengatakan, tidak beriman kalian sebelum kalian benar-benar diuji (QS. Al-Ankabut: 2-3).

*****

Tinggi sekali pesan cinta dalam kisah pemuda tadi. Demikian pula dalam kasus Ibrahim as, drama penyembelihan Ismail anaknya adalah sebuah ilustrasi dari Islam sebagai “agama cinta.” Kita tidak disebut mencintai Tuhan ketika belum bersedia mengorbankan hal-hal yang paling kita cintai di dunia ini demi Tuhan dan Rasul kita.

Tapi kacau juga kita ini, jangankan mengorbankan anak atau ibu sendiri (era mengorbankan manusia sebagai sesembahan memang sudah lewat), mengorbankan satu kambing atau sapi saja kita ragu bahkan tidak mau melakukannya pada setiap Idul Adha.

Pada hakikatnya kurban bukanlah membunuh hewan-hewan tersebut. Melainkan membunuh sifat kikir, ego dan keangkuhan yang bersemayam dalam setiap diri kita. Orang-orang ikhlas adalah mereka yang berani membunuh semua sifat kebinatangan itu. Keikhlasan inilah yang diterima, bukan binatang ataupun darah yang mengalir darinya.

Pada hakikatnya, kurban bukanlah membunuh hewan-hewan tersebut. Melainkan ‘membunuh’ diri kita sendiri. Yaitu membunuh sifat kikir, ego dan keangkuhan yang bersemayam dalam setiap diri kita. Kita harus membunuh semua cinta dunia yang menghalangi kita untuk mencintai Tuhan. Inilah makna sebuah hadist , “Matilah sebelum engkau mati” (mutu qabla an tamutu).

Orang-orang ikhlas yang larut dalam takbir dan ibadah adalah mereka yang berani bersikap untuk membunuh semua sifat dari dunia kebinatangan itu. Keikhlasan inilah yang diterima saat kita berqurban, bukan binatang ataupun darah yang mengalir darinya.


[Cerpen] "Matahari Tidak Pernah Terbenam di Negeri Senja"

Hidupku penuh dengan kesedihan – karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju ke suatu tempat entah di mana, namun kesedihanku tidak pernah hilang. Kesedihan, ternyata, memang bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada di dalam diri kita. 

Aku selalu mengira kalau melakukan perjalanan jauh maka kesedihan itu akan bisa hilang karena tertinggal jauh di belakang, tapi itu tidak pernah terjadi. Ada segaris luka dalam hatiku yang telah mendorong aku pergi jauh dari kampung halamanku dan sampai sekarang belum pernah kembali.

Mungkin aku tidak akan pernah kembali meskipun kesedihanku suatu hari akan hilang. Aku sudah terlanjur tidak pernah merasa punya rumah, dan tidak pernah merasa harus pulang ke mana pun dan aku menyukainya. Barangkali kesedihanku tidak akan pernah hilang tapi sudahlah, aku tidak ingin memanjakan perasaan. Aku sudah selalu membiasakan diriku hidup bersama dengan kesedihan – apa salahnya dengan kesedihan? Apa salahnya dengan duka? Apa salahnya dengan luka? 

Setelah mengembara bertahun-tahun lamanya aku belajar hidup bersama dengan kesedihan, kesepian, dan keterasingan. Semua itu tidaklah mudah, tapi apalah yang bisa diperbuat oleh seseorang dalam perantauan? Aku ini seorang pengembara, cuma seorang musafir lata yang tiada bersanak dan tiada berkawan, pergi dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan – sia-sia mencoba menghilangkan kesedihan.

Kemudian, setelah bertahun-tahun melakukan perjalanan, akhirnya aku mempunyai juga tujuan, atau semacam tujuan, setidaknya suatu alasan yang membuat aku terus menerus melakukan perjalanan nyaris tanpa berhenti kecuali untuk mengumpulkan tenaga kembali. Aku selalu pergi, selalu berjalan, karena selalu ingin mengenal sesuatu yang lain, yang belum kukenal, dan betapa banyak keindahan yang terdapat di dunia yang luas terbentang.

Baca juga: [Cerpen] Bagaimana Aku Bisa Membayangkan Perempuan Lain ?!

Aku telah berjalan dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Dari kota ke kota, dari kampung ke kampung, keluar masuk hutan, mengarungi wilayah dan mendapat pengalaman. Aku selalu melakukan perjalanan sendirian, dan karena itu aku banyak merenung. Sambil melihat pemandangan yang tidak pernah kusaksikan, aku berpikir tentang kehidupan. Membayangkan bumi terbentang yang dulu tidak dihuni manusia, aku merenungkan makna kebudayaan. Melewati padang salju membeku, padang rumput menghijau, dan pantai-pantai membiru, aku memikirkan manusia dan alam.

Aku telah menyeberangi tujuh lautan, mendaki duapuluh gunung, menjelajahi tiga gurun, dan menyuruk ke perkampungan suku-suku terpencil, namun aku tidak pernah merasa bisa tinggal di suatu tempat agak lebih lama. Di tempat yang paling nyaman, makmur, dan indah pun aku selalu merasa gelisah. Selalu ada cakrawala baru yang ingin kurengkuh, dari ujung dunia yang satu ke ujung dunia yang lain. Barangkali rumahku adalah perjalanan itu sendiri. Aku senang tidur di bawah pohon di padang terbuka, berselimut jerami di dalam gerobak, terkantuk-kantuk di atas keledai, atau telentang menatap rembulan di dalam sampan yang dibawa arus pelahan. Betapa berumah aku dalam pengembaraan.

Begitulah, suatu ketika dalam perjalananku tibalah aku di Negeri Senja, yang seperti tiba-tiba saja muncul di hadapanku setelah menyeberangi sebuah gurun selama dua minggu. Dari jauh, Negeri Senja cuma bayangan hitam tembok-tembok beku perbentengan yang tua. Benteng semacam itu sudah tidak ada artinya lagi sekarang, apalagi benteng itu pun nyaris merupakan reruntuhan, menjadi warisan sejarah yang tidak terurus. Dari jauh, Negeri Senja hanya tampak sebagai bayangan hitam karena di latar belakangnya tampaklah lempengan bola matahari raksasa yang jingga dan membara itu memenuhi ruang, menyebabkan langit di atas itu semburat jingga dengan tepian mega-mega yang telah menjadi keemasan.

Aku masih jauh dari kota ketika sejumlah orang bersorban mencegat aku di balik bukit pasir.

Seseorang bicara dengan bahasa antarbangsa yang fasih.
“Tuan, apakah Tuan yang selama ini kami tunggu?”
“Pasti bukan, siapakah yang kalian tunggu?”
“Kami menunggu Penunggang Kuda dari Selatan.”
“Siapakah itu?”
“Dia adalah orang yang akan menyelamatkan kami.”
“Menyelamatkan? Dari apa?”
“Dari segalanya.”

Aku perhatikan mereka. Apakah mereka sudah kehilangan akal? Sudah jelas aku menunggang unta, bukan kuda.

“Kalian lihat, aku tidak menunggang kuda.”

“Barangkali saja Tuan mengganti kuda Tuan dengan unta sebelum menyeberangi gurun.”

“Yah, itu memang mungkin, tapi aku bukan Penunggang Kuda dari Selatan, aku datang dari
Timur Jauh.”

“Oh, maafkan kami Tuan, kami sudah bertahun-tahun menanti di sini, dan kami sudah gelisah.
Kami menanyai setiap orang yang datang dari selatan.”

Ketika aku berlalu, kulihat sejumlah orang itu memandang ke selatan kembali. Di mata mereka terpancar harapan, tapi harapan yang sudah memudar. Apakah kiranya yang mereka alami sehingga begitu berharap seperti itu? Menunggu seseorang yang bisa menyelamatkan mereka entah dari apa, sampai bertahun-tahun lamanya, bukanlah peristiwa biasa. Siapa pula Penunggang Kuda dari Selatan yang sangat diharap-harapkan itu? Siapakah orangnya yang begitu perkasa sehingga begitu diharapkan akan pasti bisa menyelamatkan sejumlah orang dari sesuatu yang aku belum tahu apa?

Segalanya serba keemasan ketika aku memasuki kota itu, serba merah keemas-emasan karena siraman cahaya matahari separuh yang bertengger di cakrawala itu. Kulihat cahaya senja seperti jalinan lembut benang-benang emas yang terpancang, dari matahari langsung ke jendela, ke dinding, ke pohon, dan ke daun-daun. Seperti garis-garis, seperti balok-balok, seperti tiang-tiang yang direbahkan. 

Rasanya baru sekali ini aku melihat cahaya berleret-leret begitu nyata, seolah-olah benda padat yang bisa dipegang. Tapi tentu saja cahaya bukan benda padat dan orang-orang berkerudung, bersorban, dan bersarung melewatinya sehingga cahaya itu seperti riak kolam yang tersibak-sibak. Cahaya itu menjadi terang dan gelap karena orang-orang yang lewat dan karena itu Negeri Senja seperti sebuah kota yang tenggelam dalam lautan cahaya sepenuhnya. Aku hanya seperti sebuah bayang-bayang yang berjalan. Kulihat bayang-bayangku sendiri menunggangi unta di tembok-tembok kota.

Aku berjalan menyusuri kota menunggang seekor unta tua yang telah membawaku menyeberangi gurun bersama rombongan kafilah para pedagang garam. Menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, memang hampir segalanya berwarna keemasan. Aku tidak melihat warna biru, aku tidak melihat warna hijau, apalagi warna merah jambu – segalanya adalah warna-warna senja. Warna, cahaya, dan suasana yang hanya ada apabila matahari akan terbenam. Dinding-dinding keemasan, tapi banyak juga ruang yang gelap dan temaram. Lorong-lorong suram dan tenggelam dalam bayangan hitam.

“Mau ke manakah Tuan, mencari penginapan? Marilah saya antar. Saya tahu penginapan yang murah dan menyediakan makan untuk unta Tuan. Marilah saya antar, supaya hari ini ada sepotong roti yang bisa saya makan.”

Aku sudah begitu lelah. Menyeberangi gurun pasir selama dua minggu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Aku menyerah saja kepada anak kecil yang bicara dengan bahasa antarbangsa terpatah-patah itu. Ia menghela tali untaku menuju ke sebuah penginapan sementara aku menoleh ke kiri dan ke kanan dengan lesu. Angin berpasir yang sudah dua minggu terus menerus menimpaku belum juga hilang sampai di dalam kota ini. Wajahku penuh dengan debu dan begitu juga wajah banyak orang di kota ini. Semua orang seperti memakai bedak tapi jelas itu bukan bedak. Mereka menutupi wajah mereka dengan kain yang juga melindungi rambut mereka dari angin yang berpasir. Jadi di mana-mana aku cuma melihat mata. Itulah mata yang memandang dengan tajam, dengan suram, atau dengan bertanya-tanya. Apalah yang bisa kita katakan dari sebuah pandangan mata?

Kuhirup aroma setanggi yang mengalir dari sebuah jendela. Ketika aku menengok ke jendela itu, muncul wajah seorang wanita yang bercadar. Dari balik cadarnya yang tipis kulihat ia tersenyum. Bibirnya begitu merah tertimpa cahaya, dan ia membawa anglo kecil berisi dupa.
Jadi kini aroma setanggi bercampur aroma dupa, dan aroma itu makin lama makin tajam karena agaknya aroma itu mengalir dari setiap jendela dan pintu. Angin yang berpasir akan selalu membuyarkannya tetapi aroma itu akan selalu mengalir kembali. 

Aku tenggelam dalam sebuah suasana yang menekan. Orang-orang di jalanan tak banyak berbicara dan di jalanan itu pun kepala mereka lebih sering tertunduk. Kepala-kepala tertunduk itu kadang-kadang terangkat melihatku dan aku hanya akan melihat mata dari kepala-kepala itu. Aku merasa gagal membaca sesuatu dari mata mereka. Apakah kiranya yang mereka baca dari mataku.

Aku pun menundukkan kepalaku supaya tidak tampak terlalu asing karena selalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Apakah cahaya senja yang temaram meski keemas-emasan itu yang membuat suasana tampak menekan? Aku telah mengalami seribu senja di seribu kota dan memang senja selalu memberikan kepada kita perasaan yang rawan, namun agaknya ada sesuatu yang lain di kota ini entah apa, sesuatu yang berat dan menekan.

Sebenarnyalah aku tidak pernah mengenal Negeri Senja sebelumnya. Aku hanya pernah mendengar namanya di sebuah kedai, ketika seorang musafir yang pandai bercerita dalam bahasa yang kukenal dikerumuni para pengunjung. Ia menceritakan suatu hal yang sangat sulit dipercaya, yakni bahwa matahari tidak pernah terbenam di Negeri Senja.

“Bagaimana itu mungkin?”
“Itulah yang juga menjadi pertanyaanku, bagaimana itu mungkin, sedangkan di sini matahari timbul dan tenggelam seperti biasa. Bukankah matahari itu-itu juga yang tampak di setiap negeri di muka bumi? Kalau matahari di Negeri Senja itu memang tersangkut di cakrawala, mestinya di negeri lain keadaannya juga tidak pernah berubah. Tapi ini tidak, hanya di Negeri

Senja matahari tidak pernah terbenam.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Itulah pertanyaanku juga, kenapa bisa begitu?”
Negeri Senja memang tidak terdapat di dalam peta, ia ada tapi tiada – hanya para pengembara yang kebetulan kesasar saja yang mengenalnya, dan mereka pun tidak pernah menganjurkan untuk datang ke sana.
“Tidak ada apa-apa di sana,” katanya, “selain kemiskinan, kejahatan, dan penindasan.”
“Tentang matahari yang tidak pernah terbenam itu?”
“Kenapa?”
“Tidak ada yang tertarik menyelidikinya?”
“Wah, orang-orang Negeri Senja menganggapnya biasa.”
“Biasa?”
“Ya, biasa. Mereka sudah biasa hidup seperti itu.”
“Hidup dengan matahari tidak pernah terbenam?”
“Hidup dengan matahari tidak pernah terbenam.”
“Apakah negeri seperti itu memang benar-benar ada?”
“Para ahli ilmu alam juga tidak percaya. Mereka tidak mau membuang waktu mencari Negeri Senja. Tapi aku pernah ke sana. Percayalah bahwa ceritaku ini bukan karangan.”

Aku juga tidak ingin percaya ketika mendengarnya. Para musafir yang kadang-kadang kujumpai memang ada juga yang suka membual. Namun pada suatu hari ketika sedang duduk beristirahat di bawah sebatang pohon, datanglah kafilah para pedagang garam itu. Mereka mengisi kantung-kantung air yang terbuat dari kulit. Dari jumlahnya tampak akan mengadakan perjalanan jauh.
“Mau ke mana sahib?”
“Mau ke Negeri Senja.”

Kini aku berada di Negeri Senja. Karena lelah dan lesu, aku lupa persoalan matahari tersebut. Nanti, ketika aku terbangun, dan membuka jendela penginapan yang kumal itu., barulah aku akan menyadari, matahari ternyata memang tidak pernah terbenam di Negeri Senja.

“Kita sudah sampai,” kata anak kecil berambut keriting itu. 

Aku baru sampai di depan penginapan. Maafkan aku, rupanya ceritaku tadi terlalu cepat, meski pemandangan tidak akan pernah berubah. Matahari membara seperti lempengan besi di tungku pembakaran. Matahari itu terbenam separuh, cahayanya membakar langit begitu rupa sehingga langit itu betul-betul membara. 

Aku menghela nafas. Aku sudah berada di Negeri Senja. Aku membayangkan wajah-wajah yang tidak akan pernah percaya jika aku menceritakannya. Aku tidak tahu apakah kau akan percaya padaku Alina – kurasa aku tidak akan pernah tahu, karena kau tidak pernah berbicara apa-apa kepadaku, hanya mendengarkan dengan mata penuh ingin tahu. Tapi kapankah aku akan pernah bertemu lagi denganmu Alina, jika aku tak pernah tahu apakah akan pernah kembali? 

Seperti juga aku tak pernah tahu, atau takut untuk tahu, apakah dikau menunggu atau tidak menunggu.


sumber: duniasukab.com

[Cerpen] "Sepotong Senja untuk Pacarku"

Alina tercinta,
Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja–dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan.


Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian, selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu, meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan. 

Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata. Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.

Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. 

Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.

Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala. 

Alina yang manis, Alina yang sendu. Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.

Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.

Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar. Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu. 
“Barangkali senja ini bagus untukmu,” pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.

Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana. 

Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.


Alina sayang,
Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku,

“Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!”

Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.

“Catat nomernya! Catat nomernya!”

Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.

Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? 

Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko, dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.

“Senja! Senja! Cuma seribu tiga!”

Di jalan tol mobilku melaju masuk kota. Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.

Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan. 

“Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan…” 

Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru. Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.

Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar. Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. 

Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.

Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.

Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. 

“Masuklah,” katanya tenang, “disitu kamu aman."

Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu. Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku. 

“Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.”

Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.

Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina. Di ujung gorong-gorong,di tempat cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persis sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus: ombak, angin, dan kepak burung? Tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama, tapi bukan tempat yang sama. 

Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.

“Semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?”

Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untuk apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja…. 


Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.

Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan, anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon. 

Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari, laut, pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh… 

Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.
Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ? asli? ini untukmu, lewat pos.

Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya? bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.

Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap. Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tidak lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya. 

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. 



– Cerpen Pililihan Kompas 1993
sumber: duniasukab.com

Inilah Cinta yang Tidak Kamu Sadari

Saat kamu bertemu dengan seseorang, kamu suka merasa senang, nervous dan berbagai perasaan lainnya yang membuatmu tak tenang, tak bisa konsentrasi, bahkan hingga susah tidur. Jika memang iya, apakah kamu berpikir, sebenarnya apa sih yang terjadi denganku?. Kamu mulai merenungkan diri, dan mencari jawabannya diberbagai situs internet atau bertanya-tanya pada temanmu. Hingga jika kamu tak menemukannya dan sudah lelah, kamu mulai acuh dan tidak peduli.

Padahal bisa saja kamu sedang merasakan yang namanya jatuh cinta saat itu. Bukankah akan sangat disayangkan kalau kamu melewatkan perasaan yang begitu indah ketika jatuh cinta, karena hanya terlambat menyadarinya. Ketika kamu sudah dewasa nanti, kamu akan sering menebak, sebenarnya kapan aku mulai jatuh cinta untuk pertama kalinya?

Ketika Menelepon Sangat Lancar, Tapi Ketika Bertemu Diam Seribu Bahasa


“Aku mulai takut saat aku menatap kedua matamu, memikirkan jika kamu tak suka aku”

Ketika kamu berbicara dengan orang yang kamu suka ditelepon atau menggunakan gadget kamu, seakan-akan berbagai kata mengalir dengan sangat lancar dari otak. Kamu bisa berbicara hal, berpura-pura jadi orang lain, menyanyikan sebuah lagu untuknya atau bahkan merayunya. Namun saat kalian membuat janjian bertemu dan saat itu kamu memandang kedua matanya. Tiba-tiba semua pidato yang sudah kamu hapalkan di rumah, hilang dari otak kamu. Kamu hanya merasa grogi saat bertemu dengannya.

Penampilan Begitu Penting Saat Didepannya


“Aku tak pernah memakai make-up, tapi saat mengingatmu tanganku tiba-tiba lihai dalam memakainya”

Seseorang gadis yang tomboy sekalipun, yang belum pernah memegang apalagi memakai make-up akan berubah 100% saat sedang jatuh cinta. Dia akan mulai senang melihat orang lain berdandan, masuk ke toko kosmetik, memperhatikan warna-wani bedak, masuk salon, bahkan meminta temannya untuk mengajarinya memakai make-up. Apalagi ketika dia sudah janjian bertemu dengan orang yang special, dia akan rajin luluran tiap minggu, memakai masker, belajar berjalan yang anggun dan mulai memilih-milih baju. Saat kamu melihat ada temanmu yang seperti itu, jelas sekali dia sedang jatuh cinta.

Tiba-tiba Ingin Belajar Memasak


“Masakanku selalu enak dilidahmu, karena ada bumbu-bumbu cinta disana”

Sebuah pepatah mengatakan “Curi hatinya dengan masakanmu”, ya.. masakan yang enak ternyata menjadi satu hal yang sekarang ini sering dijadikan gadis-gadis muda sebagai pemikat untuk orang yang dicintainya. Seperti membuatkan kue khusus ulang tahun untuknya. Atau mengajaknya makan di setiap istirahat kelas, membawakan bekal untuknya. Kamu berharap dapat membuatnya kagum denganmu dan membuatnya berpikir kamu adalah orang yang istimewa untuknya.

Menjadi Detektif Dadakan


“Setiap informasi tentangmu, lebih penting dari sejuta dollar”

Tiba-tiba kamu yang biasanya cuek sama seseorang dan tidak tertarik di sosial media, tiba-tiba membuat semua akun sosial media yang kamu tahu, dia, orang yang kamu suka, juga memilikinya. Setiap hari kamu selalu stalking semua akunnya, bahkan mulai mendownload foto-foto terbaiknya untuk dijadikan wallpaper hp atau desktop laptop kamu. Kamu juga mendekati teman-temannya untuk sekedar mencari informasi lebih jauh tentangnya. Mulai bertanya-tanya apa makanan favoritnya, warna favoritnya, hobinya dan semua yang kamu perlukan untuk bisa lebih dekat dan nyambung saat bertemu dengannya.

Suka Curi-curi Pandang Saat Dia Dekat Ataupun Jauh Denganmu


“Didalam pikiranku hanya ada kamu, bahkan tiap coretan yang aku tulis adalah namanu”

Kamu yang biasanya rajin dan serius menanggapi pelajaran sekolah, sudah mulai kehilangan konsentrasi dikelas. Setiap coretan yang kamu buat dibuku tulismu, selalu ada namanya. Hal itu membuatmu begitu galau dan susah. Rasanya belum ada kepuasan sama sekali jika belum melihatnya dihari itu. Dan saat itu pula, kamu mulai berpikir untuk ijin ke toilet. Padahal yang sebenarnya kamu ingin berjalan melewati depan kelasnya, dan memandangnya yang sedang serius belajar. Atau saat kamu sedang berkumpul dengannya juga teman-temanmu, kamu suka melirik kepadanya. Hanya dengan melihatnya saja kamu sudah sangat tenang.

Mulai Jadi Pencemburu


“Aku takut kamu tidak menyukaiku, dan aku mulai membenci tiap orang yang membuatmu tertawa, selain aku”

Saat kamu sedang memandangnya dari kejauhan dan menikmati berbagai imajinasi kamu yang liar, seorang gadis, baik yang kamu kenal atau tidak mencoba mendekatinya atau mengajaknya berbicara. Kamu tiba-tiba merasa sedih bahkan terasa sakit sekali di dada, dan mulai berpikiran aneh-aneh di otak kamu. Atau ketika kamu sedang asyik bertelepon dengan dia, dia tiba-tiba membicarakan seorang gadis lain. Walaupun hanya sekedar bertanya, kamu merasa sangat sedih bahkan ingin meneteskan air mata. Tapi karena waktu itu kamu sedang berbicara dengannya, kamu tetap mencoba tegar dan berusaha tersenyum untuknya.

Berusaha Menjadi Yang Terbaik


“Aku akan melakukan apapun untuk kamu”

Kamu mulai mencari berbagai hal yang akan membuatnya menyukaimu, jika dia menyukai gadis yang punya prestasi atau bangga dengan gadis yang seperti itu. Kamu akan rajin belajar dengan giat bahkan lebih giat dari pada biasanya. Kamu akan menunjukkan kepadanya bahwa kamu bisa menjadi seperti apa yang dia inginkan. Dan melakukan apapun untuknya.

Jika memang hal-hal tersebut yang kamu rasakan, maka sudah pasti kamu sedang jatuh cinta kepadanya, Jadi jangan pernah ragu untuk mengungkapkan perasaanmu . Dan berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Jika pada akhirnya dia tidak memilihmu, pasti ada suatu hal yang sangat besar dan lebih baik yang telah dipersiapkan untuk kamu nantinya.


source: duapah.com

Amal Baik Tukang Pos

Frankie, seorang petani desa yang stress karena tanaman kacang dan cabainya habis disapu badai. Saking frustasinya, ia berpikir untuk mengirim surat kepada Tuhan karena ia menganggap
hanya Tuhan yang bisa menolongnya dari ancaman kelaparan tahun ini.

"Tuhan, Jika engkau tak menolongku, aku dan keluargaku akan kelaparan tahun ini. Aku membutuhkan seratus dolar agar bisa menggarap ladangku kembali dan menyambung hidup sampai datangnya musim panen, karena badai itu...".


Dia menuliskan "Untuk Tuhan" di amplopnya, memasukkan lembar surat ke dalamnya, dan membawanya ke kantor pos esok hari dengan tampang seperti seekor jago kalah perang. Tukang pos bingung nan heran ketika membaca alamat di amplop, lalu memutuskan membuka dan membaca surat itu, kemudian tertawa terbahak-bahak. Selama bekerja sebagai pegawai pos, ia tak pernah tahu dimana alamat Tuhan. Pegawai lain dan atasannya pun ikut tertawa, tapi segera serius kembali saat sadar bahwa pengirim tentu seseorang taat dan kuat imannya kepada Tuhan. Kepala pos yang baik hati itu berniat membalas surat aneh tersebut. Ia pun kemudian merelakan sebagian gajinya. Selebihnya ia minta pada bawahannya secara sukarela. Karena sulit mengumpulkan seratus dolar, maka apa boleh buat, tujuh puluh dolar pun jadi. Lumayan buat menghibur yang lagi nestapa.

Sepekan kemudian Frankie datang lagi ke kantor pos, menanyakan apakah kiriman Tuhan telah sampai. Dengan antusias si tukang pos memberikannya. Frankie, dengan begitu yakin akan kemurahan Tuhan, tak tampak heran, namun saat membuka amplop, wajahnya malah jadi kerut. Ia lalu menulis lagi surat pendek, dan seperti sebelumnya,  dimasukkannya surat itu ke dalam amplop.

Setelah menulis alamat Tuhan, perangko ditempel dan dimasukkan ke dalam kotak surat, ia pun langsung pulang. Kepala pos, yang merasa bangga telah beramal, bergegas membukanya. Dalam
hati ia membaca, "Tuhan, dari seratus dolar yang kuminta, cuma tujuh puluh dolar yang sampai padaku.  Kirimlah sisanya, karena aku sangat membutuhkannya. Tapi jangan Kau kirim melalui pos, karena semua pegawai pos itu bajingan". [*]

Peran Agen Pemain Sepakbola yang Olalaa..

Ada sebuah cerita tentang seorang penjaga gawang yang mabuk berat. Kamarnya berantakan, dia teler, benar-benar seperti pemabuk di jalanan. Presiden klub memergokinya. Keesokan hari, sang presiden menjual si pemain ke klub lain.

Kejadiannya sudah lama, musim panas 1996. Presiden itu adalah Antonio Pimenta Machado, pemimpin Vitoria Guimaraes. Kiper itu bernama Nuno Espirito Santo.


Ya, dia penjaga gawang cadangan FC Porto peraih gelar Piala UEFA dan Liga Champions bersama Jose Mourinho, yang kini banting setir menjadi pelatih, sempat membesut Valencia, dan sekarang di belakang kemudi FC Porto.

Yang saat itu Machado tak tahu, dan sekarang mungkin saja sudah tahu, bahwa kelakuan Nuno muda ketika itu adalah sebuah akting!

Konon, Machado berjanji kepada Nuno muda. Kalau ada klub yang mau mengeluarkan 1 juta euro untuknya, dia akan dijual.

Klub Spanyol, Deportivo La Coruna, berminat. Nuno menemui Machado, tetapi sang presiden ingkar janji. "Sekarang, minimal 5 juta!" katanya.

Nuno kesal. Ia curhat kepada agennya. Sang agen yang merencanakan skenario epik, rencana mabuk tersebut.

Dia juga yang bikin kamar Nuno berantakan. Nuno menurut. Hasilnya luar biasa tokcer. Machado percaya akting Nuno, besoknya Nuno dijual ke Deportivo!

Agen Nuno tersebut bernama Jorge Mendes. Itulah transaksi pemain pertama yang ia lakukan di industri ini.

Nuno adalah klien perdana Mendes, yang dulu bekerja sebagai pemilik toko rental video dan disko.

Sekarang? Mendes jelas salah satu pria paling berpengaruh di sepak bola. Ia pemilik Gestifute, perusahaan representasi pemain-pemain top dunia seperti James Rodriguez, Radamel Falcao, Diego Costa, Cristiano Ronaldo, sampai bos Man. United, Jose Mourinho.

Apa yang diperlihatkan Mendes dan Nuno di awal kariernya menunjukkan sepintas betapa besarnya peran seorang agen terhadap masa depan si pemain.

Kontribusi agen menjadi begitu vital. Mereka seperti punya kuasa menyetir keinginan si pemain, walau kadang tak selalu sejalan dengan keinginan klub, pelatih, atau bahkan fans.

Banyak pelaku industri sepak bola yang kerap dikutip mengaku tak suka dengan agen pemain. Ada yang bilang mereka terlalu ikut campur.

Salah satu contoh paling aktual jelas perseteruan bos Manchester City, Pep Guardiola, dengan agen Yaya Toure, Dimitri Seluk. Orang Ukraina ini bukan sembarang agen.

Yaya menyebutnya ‘papushka’, ayah kedua. Yaya menamai anak pertamanya dengan nama si agen, bukti bahwa dia menjadi jembatan karier brilian Toure dalam 15 tahun terakhir.

Wajar ketika Guardiola memutuskan buat melupakan nama Toure dari daftar skuat City di Liga Champion, Papushka marah besar.

Dia menyudutkan Guardiola, dan sebagai balasannya pelatih Spanyol itu tak akan memainkan Toure sampai Seluk meminta maaf, sesuatu yang tak ia lakukan sampai sekarang.

Walah, omongan Guardiola menjadi kenyataan. Musim hampir seperempat berjalan, Toure tak pernah bermain. Gawatnya lagi, publik kini melupakan Toure.

Man City era Guardiola baik-baik saja, bahkan bermain lebih menggairahkan, tanpa sang gelandang. Kalau City bersiap menikmati periode terbaiknya di tahun-tahun ke depan, apakah Toure tak ingin menjadi bagian darinya?

Dia sudah tujuh tahun berseragam Manchester Biru, dianggap pemain penting klub itu. Barangkali kalau bisa tahu isi hatinya, dia juga ingin menjadi bagian kesuksesan City di sisa karier profesionalnya.

Malah lebih jauh lagi, Toure mungkin saja bisa bergabung bareng tim, kembali ke Camp Nou, bereuni juga, ke klub yang turut membesarkan namanya di jagat sepak bola: Barcelona.

Sulit dimungkiri, Barcelona adalah sekolah tempat Toure berguru dan membesarkan namanya, menjadi gelandang komplet peraih treble 2008-2009 di bawah Guardiola juga.

Sekarang, boro-boro bereuni di Barcelona, bermain di Etihad saja sulit. Di situ barangkali Yaya merasa sedih. Bisa jadi juga tidak.

Toh, dia juga ‘didepak’ Guardiola, dengan mempromosikan bocah akademi bernama Sergio Busquets di tim utama Barca. Kelak, alias saat ini, Busquets menjadi sosok yang tak bisa dicari gantinya.

Dengan kata lain, keputusan Pep ketika itu dianggap sangat tepat. Wajar kalau saat ini pro-Pep lebih banyak ketimbang pro-Yaya, apalagi pro-Seluk.

Pengalaman Pep membuang pemain bintang berujung kepada kesuksesan yang lebih besar.

Fan dan petinggi City mungkin menyayangkan keputusan Pep soal Yaya, tetapi mereka tutup mata, demi kepentingan yang lebih mulia, kejayaan City di masa depan.

Kalau demi mewujudkan itu mereka harus mengorbankan seorang Yaya, yaaa... bisa saja dilakukan.

Yaya jadi korban, tetapi bukan karena apa yang dia lakukan, melainkan lantaran perseteruan 'ayah kedua' dengan ‘ayah pertama’ di City: Guardiola. Tak adil, memang. Tetapi, yaaa.


sumber: juara.net/kolom

Legenda: Franco Baresi, 'Sang Kaisar' Kapten Sejati

Kostum bernomor punggung enam takkan pernah dijumpai lagi di AC Milan karena sudah dipensiunkan. Pemain terakhir yang mengenakan kostum tersebut adalah Franco Baresi, yang sudah menjadi legenda klub merah-hitam tersebut.

Bukan tanpa alasan Rossoneri, demikian sebutan klub yang bermarkas di San Siro tersebut, memberikan penghargaan kepada Baresi. Loyalitas sang libero membuat dia layak mendapat penghormatan itu karena sepanjang kariernya, Baresi tak pernah pindah klub.

Ya, sejak melakukan debutnya di Serie A ketika berusia 17 tahun, tepatnya pada musim 1977-1978, Baresi tidak pernah pindah markas. Dia tetap setia mengenakan seragam hitam-merah yang merupakan warna kebesaran Milan.

Meskipun demikian, awal kisah perjalanan hebat karier Baresi ini dimulai dari rival sekota Milan, Inter Milan. Pria kelahiran Travaglito, tepatnya kota Lombardy, yang jarak tempuhnya sekitar satu jam dari Milan, sempat mencoba peruntungannya bersama Nerazzurri, julukan Inter, ketika dirinya masih berusia 14 tahun.

Sayang, Inter tak tertarik menggaet Baresi, karena klub biru-hitam ini memilih saudara Baresi, Giuseppe Baresi, yang usianya dua tahun lebih tua. Berkat bujukan pelatih, Baresi berbelok haluan ke Milan hingga kemudian menyebut dirinya seorang Milanista sejati.

"Saudaraku sudah bersama Inter, dia lebih tua dariku. Saya ingin mengikutinya sehingga harus lebih dulu mengikuti trial di Inter. Kemudian mereka berkata, 'Kamu bisa kembali tahun depan'. Pelatihku membawa saya ke Milan dan di sana saya diterima, meskipun harus menjalani serangkaian uji coba," ujar Baresi.

Benar saja, peruntungan Baresi bersama Milan sangat bagus. Semusim setelah melakukan debutnya, pria kelahiran 8 Mei 1960 ini langsung menembus skuat utama dan berhasil merengkuh gelar Serie A 1978-1979. Kala itu Baresi bermain sebagai libero, posisi yang digelutinya selama dua dekade.

Kesuksesan Baresi ini dalam waktu singkat diikuti periode kelam dalam sejarah Milan, ketika klub tersebut degradasi ke Serie B sebanyak dua kali pada awal 1980-an. Rossoneri turun kasta pada 1980 karena terlibat dalam skandal match fixing alias pengaturan skor dan kembali ke level serupa pada musim 1981-1982 karena finis di posisi ketiga dari bawah.

Dalam kondisi terpuruk ini, Baresi, yang kehilangan ayahnya karena meninggal dunia ketika dirinya berusia 16 tahun, tidak berpaling ke klub lain. Padahal, dengan skill yang sangat mumpuni, bukan hal yang sulit baginya mendapatkan klub-klub elite Eropa.

"Saya selalu merupakan seorang Milanista. Merupakan sebuah keuntungan yang besar bagi saya selalu bermain untuk Milan," demikian pernyataan Baresi.

Setelah dua kali membawa Milan menjuarai Serie B (1980-1981 dan 1982-1983) dan klub tersebut kembali ke Serie A, Baresi, yang kala itu berusia 22 tahun, ditunjuk menjadi kapten. Status skipper disandangnya setelah Aldo Maldera dan Fulvio Collovati meninggalkan klub pada 1982. Sejak saat itu, ban kapten selalu melingkar di lengannya dan dia menjadi simbol serta pemimpin tim.

"Saya tidak masalah menjadi kapten. Merupakan hal yang tidak biasa menjadi kapten begitu cepat, tetapi situasinya pun tidak biasa. Pada 1982 Milan degradasi ke Serie B sehingga mereka menunjuk saya menjadi kapten. Mereka ingin membangun kembali tim," ujar Baresi.

Menjadi pemimpin pada usia muda, Baresi kemudian diberi julukan Piscinin, yang berarti Little One alias Si Kecil. Tetapi di balik julukannya yang sangat "manis", Baresi ternyata merupakan pemain yang sangat tangguh, terutama ketika menghalau laju serangan lawan. 

"Saya pikir titik kekuatanku bukan fisikku. Saya pemain yang cukup cepat, tetapi lebih dari semua itu, saya lebih cepat di sini, di kepala. Itu yang banyak membantuku. Itu hal yang alami. Tentu saja anda bisa memperbaikinya, anda bisa meningkatkannya dengan pengalaman, tetapi itu merupakan pemberian alami," ujar Baresi soal kemampuannya.

Meskipun demikian, partner sejatinya di lini belakang, Paolo Maldini, tak sepenuhnya setuju dengan pernyataan Baresi. Pemain kidal yang kemudian mewarisi ban kapten Baresi ini menyebut tandemnya itu adalah libero sejati.

"Dia tidak seperti Jaap Stam, pemain bertubuh besar yang kuat dan cepat. Dia memiliki kecepatan tetapi beratnya hanya 70 kilogram. Tetapi perlu saya katakan kepada anda bahwa ketika dia menghentikan anda dengan sebuah tekel, dia begitu kuat," ujar pemilik nomor punggung tiga ini.

Dalam perjalanan kariernya, julukan Si Kecil mulai ditinggal. Lantaran skill dan kesuksesannya, Baresi pun disejajarkan dengan legenda sepak bola Jerman, Franz Beckenbauer, sehingga kemudian dia mendapat julukan baru "Kaiser Franz".

Tak heran jika Maldini menjadikan Baresi sebagai model seorang bek. Ini karena ketenangan dan kinerja Baresi di atas lapangan hijau. Fisiknya yang tidak terlalu ideal tak menjadi penghalang untuk menjadi libero berkarisma.

"Dia pendek, kurus tetapi sangat kuat. Dia bisa melompat begitu tinggi. Cara dia bermain di lapangan merupakan contoh bagi semua orang. Dia bukan seorang yang hanya omong besar, tidak, tidak, tidak. Cara dia bermain, cara dia berlatih menjadi contoh. Bagi saya, dia merupakan tokoh panutan. Dia menjadi referensi. Dia juga sangat bagus dengan bola. Sangat sulit menemukan seorang bek yang bagus, yang kuat dan bagus dengan bola. Sangat sulit," ujar Maldini.

"Gagal" di Level Internasional

Sepanjang kariernya, Baresi menorehkan kesuksesan besar bersama Milan. Dia mampu meraih dua gelar Piala Interkontinental, 3 trofi Liga Champions, 3 Piala Super Eropa, 6 Scudetto dan 4 Piala Super Italia.

Namun di level internasional, prestasi Baresi tidak terlalu cemerlang lantaran tak pernah merengkuh gelar juara bersama Azzurri alias tim nasional Italia. Dia hanya nyaris membawa Italia menjadi juara Piala Dunia 1994, tetapi ambisi itu gagal terwujud karena pada final kalah adu penalti melawan Brasil.

Dalam perjalanan selama event tersebut yang berlangsung di Amerika Serikat, Baresi sempat cedera karena mengalami robek pada meniskus. Meskipun demikian, Italia bisa melangkah ke fase gugur dengan status peringkat ketiga terbaik Grup E, mendampingi Meksiko dan Irlandia.

Italia berhasil mengalahkan Nigeria 2-1 pada babak 16 besar, kemudian menyingkirkan Spanyol dengan skor 2-1 dan menaklukkan Bulgaria 2-1 pada babak semifinal untuk bertemu Brasil pada partai puncak. Saat melawan Brasil, Baresi sudah kembali bemain setelah istirahat selama 25 hari.

Selama 90 menit waktu normal plus perpanjangan waktu, Baresi mampu menjaga pertahanan Italia dari gempuran para pemain Brasil sehingga kedudukan tetap imbang tanpa gol. Alhasil, juara turnamen tersebut harus ditentukan lewat adu penalti. Dalam drama ini, Baresi termasuk pemain yang gagal mencetak gol, bersama dengan Roberto Baggio dan Daniele Massaro, sehingga Brasil menang 3-2.

Sebenarnya, Baresi pernah merasakan gelar juara Piala Dunia 1982 yang diselenggarakan di Spanyol. Tetapi, selama event tersebut Baresi hanya menjadi penghangat bangku cadangan lantaran tidak pernah mendapat kesempatan bermain.

Lama malang-melintang di pentas sepak bola dunia, Baresi memutuskan pensiun pada usia 37 tahun. Dia gantung sepatu pada akhir musim 1996-1997. Selama itu, Baresi mencetak 31 gol bagi Milan, 21 di antaranya melalui titik penalti. 

"Sulit untuk pensiun, tetapi pada musim terakhir itu saya banyak mengalami cedera dan tidak bisa berlatih dengan benar, sehingga mulai muncul keinginan untuk pensiun. Kemudian, setelah 27 tahun bermain, saya kira inilah saatnya," ujar Baresi soal keputusannya tersebut.

Pensiun bukan berarti Baresi benar-benar hilang dari pentas sepak bola. Pada Juni 2002, dia ditunjuk menjadi direktur sepak bola klub Inggris, Fulham, untuk bekerja sama dengan manajer Jean Tigana. Sayang, keberadaannya di London Barat itu tidak berlangsung lama karena pada bulan Agustus dia mengundurkan diri.

Dari Fulham, Baresi mendapat kesempatan menangani tim Milan Primavera (U-20) selama empat tahun hingga 2006. Setelah itu, dia ditunjuk melatih tim Berretti (Milan U-19). Lagi-lagi, keberadaannya sebagai pelatih hanya sebentar karena pada 2008 Baresi memutuskan untuk pensiun sebagai pelatih.


sumber: juara.net/sosok

Kalau Liverpool Ingin Juara, Lepas Coutinho!

Usai laga melawan Crystal Palace dengan kemenangan 4-2 di rumah lawan (29/10), Manajer Liverpool FC, Juergen Klopp, punya satu kata untuk Coutinho ketika ditanyakan oleh wartawan: "Outstanding!" 


Mengacu pada penampilan Countinho di Stadion Selhurts Park, saya bisa mengartikan makna "outstanding" itu sebagai luar biasa, sungguh hebat, menakjubkan, hingga mencengangkan.

Silakan Anda pilih kata mana yang tepat untuk menggambarkan penampilan Coutinho dengan kontribusi empat tembakan dan tiga yang mengarah ke gawang lawan, serta dua assist dalam kemenangan Liverpool 4-2.

Saya bantu Anda dengan mengutip ucapan bek Liverpool, Dejan Lovren, tentang pandangannya terhadap Coutinho: "Dalam opini saya, Coutinho adalah pemain terbaik di Premier League saat ini."

Banyak pujian bisa kita kumpulkan atas peran Coutinho dalam dua musim terakhir bersama Liverpool.

Pria Brasil berusia 24 tahun ini telah menjelma menjadi pesepak bola yang punya variasi permainan dalam menciptakan peluang gol, sekaligus penyelesai serangan yang tak jarang ia sendiri merancangnya.

Baca juga:
~ 6 Trio Maut Sepakbola 2016
~ Kelemahan 7 Tim Papan Atas Liga Inggris Hingga Pekan Ke-10

Kata mantan rekannya, Jamie Carragher, Coutinho telah tumbuh menjadi salah satu pesepak bola elite milik Premier League.

Dalam kolom Carragher di Daily Mail, ia menyebut Coutinho cocok untuk gaya bermain seluruh rival Liverpool, seperti Manchester City, Arsenal, Tottenham Hotspur, Chelsea, hingga Manchester United.

Benarkah Liverpool kini menemukan pengganti Steven Gerrard dan Luis Suarez? 

Sebuah pujian yang berbahaya bagi mimpi-mimpi pendukung Liverpool. Ya, berapa gelar juara liga yang dipersembahkan Gerrard dan Suarez bagi Liverpool? Nol.

Mari lihat empat gol dan empat assist yang dilesakkan Coutinho dalam Premier League 2016-2017.

Siapa yang berani memprediksi Coutinho akan mencetak dua gol ke gawang Arsenal dalam kemenangan 4-3 di Stadion Emirates? Dua gol lagi ia cetak ke gawang Hul City (5-1) dan West Brom(2-1).

Kepada siapa Coutinho memberikan umpan? Sebanyak tiga diselesaikan oleh duet palang pintu Liverpool, yakni Dejan Lovren (2) dan satu lewat sundulan Joel Matip. Satu lagi diberikan kepada Adam Lallana.

Jumlah itu hampir menyamai total assist Coutinho musim lalu di Premier League. Lima assist Coutinho diberikan kepada Sturridge (2), Roberto Firmino (1), Divock Origi (1), dan James Milner (1).

Catatan statistik lain musim lalu, Coutinho melepaskan 111 tembakan dengan 30 yang tepat sasaran alias ke gawang lawan (27 persen). Total gol miliknya berjumlah delapan.

Peningkatan kontribusi Coutinho di Liverpool tentu punya dampak, baik itu positif maupun negatif.

Nah, judul di atas adalah sebuah pandangan dari aspek negatif ketergantungan Liverpool terhadap kreativitas dan kebugaran Coutinho.

Hingga pekan ke-10 Premier League 2016-2017, Coutinho sudah 9 kali sebagai starter dalam 10 penampilan. Dia menjadi pemain Liverpool terbanyak yang melepaskan tembakan, yakni 41 kali, diikuti oleh Roberto Firmino (26) dan Sadio Mane (21).

Soal efektivitas? Tembakan Coutinho yang tepat sasaran mencapai 39 persen alias 16 dari 41 tembakan.

Persentase shots on target tersebut memang kalah dari Firmino yang berjumlah 47 persen. Akan tetapi, total tembakan kedua warga Brasil ini berbeda 15 shots, bukan?

Jangan lupa, sebanyak 24 dari 41 tembakan itu dilakukan Coutinho dari luar kotak penalti. Sebuah alternatif bagi serangan Si Merah.

Bila Liverpool ingin juara, Juergen Klopp harus melepaskan ketergantungan timnya dari Coutinho.

Sebuah bukti nyata adalah ketika kaki-kaki Coutinho letih usai pulang membela Brasil di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2018.

Pada 6 Oktober 2016, Coutinho membela Brasil menghantam tamunya Bolivia 5-0. Lalu, lima hari kemudian ia berseragam Selecao mengalahkan Venezuela 2-0 di markas lawan.

Apa yang terjadi kemudian bagi Liverpool? Kebugaran Countiho berdampak pada kelesuan efektivitas serangan Liverpool.

Ia gagal menaklukkan Manchester United di Anfield (17/10). Skor 0-0, dan tak ada aksi-aksi menawan Coutinho, termasuk kejeliannya melihat lubang di pertahanan lawan.

Masih ada delapan laga Kualifikasi PD 2018 yang akan dilakoni Brasil hingga Oktober 2017.

Juergen Klopp kudu pintar meracik strategi ketika Little Magician miliknya itu harus berbagi waktu menempuh perjalanan jauh ke wilayah Amerika Selatan. 


Rabunnya Mata Batin

Oleh: KH A Hasyim Muzadi

 --Ijtihaaduka Fiimaa Dhumina Laka
Wa Taqshiiruka Fiimaa Thuliba Minka
Dalillun ‘Alaa Inthimaasil Bashiiroh Minka :

Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu
dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu,
adalah bukti dari rabunnya mata batinmu—


--Ibnu ‘Athaillah—


Hidup dan kehidupan adalah anugerah Allah SWT. Kehidupan bukanlah satu-satunya anugerah yang Allah berikan kepada para makhluk-Nya. Selain anugerah kehidupan, Allah juga menyiapkan pemberian kematian. Kehidupan memiliki awal dan akhir. Hanya Allah yang Maha Hidup dan tak pernah mati. Ketika menganugerahkan kehidupan, Allah telah menyiapkan di dalamnya semua kebutuhan manusia untuk dapat mengelola nikmat kehidupan. Semua anugerah Allah baik adanya.

Setelah kematian datang, tempat kembali semua makhluk hidup adalah Allah semata. “Tsumma Ilayya Marji’ukum - kemudian kepada-Ku lah tempat kalian semua pulang,” demikian bunyi firman-Nya yang sering diingatkan oleh para guru kepada kita. Sebelum akhirnya benar-benar pulang, Allah menjadikan kehidupan sebagai tempat manusia mempersiapkan segala hal agar, secara sendiri-sendiri, mereka dapat mempertanggungjawabkan anugerah kehidupan kepada Allah SWT.

Untuk memudahkan tugasnya, manusia tak perlu mengejar sesuatu yang berada di luar yang dituntut darinya. Allah sudah menyiapkan dan mengatur semua. Tugas manusia adalah menjadi khalifah agar kehidupan di dunia dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kemakmuran kehidupan akhirat. Maksimal dalam arti mampu memberi makna dan manfaat sebanyak-banyak kepada sesama makhluk hidup, utamanya antarsesama anak manusia.

Kita lahir dengan ketetapan yang sudah digariskan Allah dari sejak alam azali. Siapa jodoh kita, menurut banyak riwayat, sudah disiapkan. Di belahan tanah mana kita akan mengakhiri hidup, juga sudah digariskan. Rejeki sebanyak apa yang akan kita butuhkan, juga sudah ditentukan. Derajat setinggi apa yang akan kita peroleh di tengah kehidupan, juga sudah dituliskan. Semua garis ketetapan itu mengarah kepada satu tujuan : menghamba hanya kepada Allah SWT.

Karena kita dicipta hanya untuk menghamba, mengabdi dan menyembah Allah, maka semua yang kita lakukan harus diniatkan untuk ibadah. Ibadah yang tulus dan hanya ditujukan untuk Allah, akan melahirkan ketulusan dan keridhaan di dalam diri kita. Ibadah yang tidak diniatkan untuk Allah, tertolak. Ibadah yang niatnya campur aduk dengan niat selain untuk Allah, juga akan tertolak. Allah tidak berkenan “diduakan” karena memang tidak ada “syariika” bagi-Nya.

Menduakan Allah bisa dilakukan oleh siapa saja ketika mata batinnya sudah rabun. Mata batin yang rabun adalah akibat langsung dari ketidakmampuan kita memilah mana yang menjadi tugas dan bagian kita dan mana yang sudah menjadi kehendak Allah. Menjaga kesehatan dengan berolahraga secara teratur adalah baik, tetapi meniatkannya untuk selain ibadah, itu berada di luar yang dimintakan agama kepada kita. Apalagi kalau olahraga hanya untuk gagah-gagahan.

Bekerja keras mengumpulkan harta adalah bentuk kasbul ‘aisy yang diperintahkan agama. Tapi mengumpulkan materi hingga berlebih-lebihan adalah tercela. Terlebih kalau menggunakan cara-cara yang dilarang oleh agama. Berlebih-lebihan dalam urusan “beginian” jelas akan membuat mata batin kita rabun. Mata batin yang rabun akan sulit membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Hanya mata batin yang sehat yang akan mampu menjadi pelita.

Allah tidak menginginkan kita berlebih-lebihan dalam segala hal. Hatta untuk hal-hal yang dianjurkan sekalipun. Bersedekah adalah tuntunan yang baik tetapi Allah mengingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan dalam bersedekah. Allah mengingatkan bahwa sedekah bisa batal gara-gara disertai dengan niat pamer dan menistakan orang. Membuat orang malu saat menerima sedekah kita, adalah tindakan tercela. Agama melarang sedekah dengan cara ini.

Melaksanakan shalat adalah baik tetapi berlebih-lebihan dalam menunaikan ibadah ini hingga melupakan ibadah sosial, diancam Allah dengan Neraka Wayl. Duduk i’tikaf di dalam masjid adalah baik. Tetapi berlama-lama di sudut-sudut rumah ibadah hingga lupa kebawajiban menghidupi keluarga, diancam dengan kemurkaan Allah. Agama mengajarkan kita untuk melakukan apa yang diminta “saja” bukan sesuatu yang melampaui itu semua. Sebab, kemampuan setiap orang sudah terukur.

Meninggalkan keluarga dan lingkungan yang miskin untuk berangkat perang ke Irak, Suriah, Libya, Tukri, Palestina, tidak dituntutkan oleh agama. Memenuhi hak-hak orang terdekat adalah sebuah kewajiban. Bahkan, berangkat umroh dan haji berkali-kali di luar yang diwajibkkan tapi masyarakat di sekitarnya tenggelam dalam kepapaan yang akut, adalah dosa. Mengentaskan saudara-saudara dari kemiskinan menjadi tugas kita sebagai khalifah Allah di atas bumi ini.

Ketika mata batin hanya dapat diperoleh dengan cara beribadah penuh ketulusan hanya untuk Allah, maka semua ikhtiar ke arah itu adalah wajib. Wudhu menjadi wajib bagi seseorang yang akan menunaikan ibadah salat, tawaf, mengenakan pakaian ihram, meski awalnya hanya dianjurkan. Mari melakukan apa yang sudah digariskan dan menerima ketetapan yang telah digariskan oleh Allah. Tidak berlebih-lebihan, hatta untuk ha-hal yang dianjurkan. Wallaahu A’lamu Bishshowaab.


sumber: